Read This Post

Sejarah Depo Pemeliharaan 50

TNI Angkatan Udara sebagai bagaian integral dari Tentara Nasional Indonesia memiliki tugas pokok antara lain selaku penegak kedaulatan negara di udara, mempertahankan keutuhan wilayah dirgantara nasional dan penegak hukum di udara serta mengembangkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan keamanan di udara. Sebagai penegak kedaulatan di udara, TNI Angkatan Udara memiliki fungsi menyelenggarakan operasi udara strategis, operasi pertahanan udara ( Hanud ) dan operasi taktis dalam rangka penguasaan wilayah udara nasional.


Operasi udara dalam rangka penguasaan wilayah nasional dapat terlaksana dengan baik apabila didukung dengan alat utama sistem senjata udara yang selalu dalam kondisi siap untuk dioperasikan. Mengingat alat utama sistem senjata udara pada saat ini menggunakan teknologi modern, sehingga memerlukan kemampuan dan kualitas pemeliharaan agar Alutsista Udara tersebut senantiasa dapat dipergunakan untuk melakukan tugas-tugas operasional TNI Angkatan Udara. Dengan meningkatnya peranan pemeliharaan materiil Alutsista Udara maka dalam perkembangan organisasi TNI Angkatan Udara semua unsur-unsur pemeliharaan/logistik diintegrasikan di bawah suatu badan setingkat Komando yang dikenal dengan Komando Logistik atau sekarang berganti nama Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara (Koharmatau).

Komando Pemeliharaan Meteriil TNI Angkatan Udara  adalah penyelenggara pembinaan kemampuan dan kesiapan operasi satuan-satuan di bawah jajarannya untuk menyelenggarakan dan melasanakan pemeliharaan tingkat berat dan produksi materiil TNI Angkatan udara dalam rangka mendukung kesiapan Alutsista Udara dan pelaksanaan tugas-tugas operasional TNI Angkatan Udara. Faktor kemampuan dan kesiapan dari satuan pelaksana / Depo Pemeliharaan dalam rangka menyelenggarakan dan melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiil menjadi kunci utama penentu keberhasilan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi TNI Angkatan udara.


Depo Pemeliharaan sebagai Satuan Pelaksana dari Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara merupakan sub sistem yang berfungsi sebagai unsur pendukung utama pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara baik yang langsung berkaitan dengan pemeliharaan alat utama sistem senjata udara maupun kegiatan-kegiatan operasi udara dan operasi-operasi lainnya.


Depo Pemeliharaan 50 merupakan salah satu Satuan pelaksanaan Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara ( Koharmatau ) yang mempunyai tugas melaksanakan pemeliharaan tingkat berat peralatan Radar TNI AU yang berada di seluruh wilayah Indonesia. Depo Pemeliharaan 50 sejak awal perkembangannya telah mewarnai perjuangan dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan, operasi penumpasan pemberontakan dan operasi komando rakyat (Trikora) dalam pembebasan Irian Barat. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai upaya dan kerja keras anggota dalam menggelar radar yang tersebar di seluruh wilayah tanah air untuk mendukung operasi pertahanan udara dalam rangka ikut andil dalam perjuangan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Mengingat pentingnya fungsi Radar dalam mendukung operasi pertahanan udara dalam rangka penegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran Depo Pemeliharaan 50 dalam pemeliharaan peralatan Radar agar senantiasa dapat dipergunakan untuk melaksanakan tugas-tugas operasional TNI AU, maka perlu mengkaji sejarah perkembangan Depohar 50 yang selama ini selalu eksis dalam melaksanakan perbaikan dan pemeliharaan Radar yang tersebar di seluruh tanah air.

Maksud penulisan “Cikal Bakal dan Perkembangan Depo Pemeliharaan 50” ini adalah memberikan gambaran tentang sepak terjang dan perkembangan Depo Pemeliharaan 50 dalam keikutsertaannnya menegakkan dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan tujuan untuk dapat memacu generasi muda TNI AU dalam mengabdi kepada negara dan bangsa Indonesia.

Depot Teknik 022 (DT 022)

Menyingkapi sejarah Depot Teknik 022 tentunya tidak terlepas dari riwayat kelahiaran Komando Logistik Angkatan Udara yang sekarang berganti nama menjadi Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara dan juga tidak terlepas dari kelahiran TNI AU pada umumnya.

Pada awal masa perjuangan fisik setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, telah terjadi sesuatu peristiwa penting yang merupakan tonggak sejarah pertumbuhan TNI Angkatan Udara. Pada saat itu tepatnya pada tanggal 9 April 1946 secara resmi telah lahir Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI-AU) sebagai bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Dengan semangat yang tinggi yang bermodalkan keberanian serta Alutsista peninggalan Belanda dan Jepang, para pendahulu kita bahu-membahu mempertahankan setiap jengkal tanah yang telah menjadi wilayah kekuasaan Republik Indonesia.


Untuk mendukung operasi pertahanan udara pada saat itu, terdapat beberapa Pangkalan Udara dan Satuan Radar berikut fasilitas pemeliharaan Pesawat dan Radar yang merupakan peninggalan Belanda dan Jepang. Dengan terbentuknya TRI-AU, fasilitas-fasilitas pemeliharaan tersebut kemudian diambil alih oleh unsur-unsur pelaksana logistik untuk menunjang kegiatan operasi TRI Angkatan Udara.

Perkembangan selanjutnya, yaitu antara tahun 1949 sampai dengan tahun 1962, Bangsa Indonesia dihadapkan kepada berbagai pemberontakan di dalam negeri dan perjuangan merebut Irian Barat yang masih diduduki oleh Belanda. Beberapa operasi yang melibatkan Angkatan Udara saat itu antara lain dengan sebutan operasi penumpasan gerombolan “Andi Azis” di Makasar, operasi penumpasan pemberontakan “Republik Maluku Selatan” (RMS), operasi penumpasan gerombolan “DI/TII” di Jawa dan Sumatra, “Permesta” di Sulawesi Utara serta operasi “Komando Rakyat” yang lebih dikenal dengan sebutan TRIKORA dalam rangka merebut Irian Barat.


Dalam mendukung pergerakan pesawat RI dan memantau pergerakan pesawat musuh, digelar beberapa Radar antara lain : Radar Nysa (Polandia), P-30 (Uni Soviet) dan Decca-Plessey (Inggris). Untuk meningkatkan kesiapan pesawat dan operasional Radar dalam mendukung kegiatan operasi pertahanan udara tersebut maka unsur pelaksana logistik Angkatan Udara telah melakukan berbagai upaya pemeliharaan dan perbaikan komponen-komponen pesawat dan Radar tanpa mengenal lelah. Bahkan dalam meningkatkan kesiapan Radar dalam mendukung pergerakan pesawat RI dan memantau pergerakan pesawat musuh dalam operasi Mandala / Trikora pada Tahun 1960, telah dilakukan upaya untuk membangun pabrik Radar yang rencananya akan dibangun di Lanud Panasan.


Dengan peranan yang cukup menonjol dari unsur-unsur logistik tersebut maka Pimpinan Angkatan Udara menyadari sepenuhnya bahwa untuk menjamin kelancaran dukungan logistik, semua unsur-unsur logistik perlu diintegrasikan di bawah suatu badan setingkat komando, oleh karena itu pada tanggal 15 Agustus 1963 berdasarkan Keputusan Menteri / Panglima Angkatan Udara Nomor : 38 tahun 1963 dibentuklah Komando Logistik Angkatan Udara yang lebih dikenal dengan nama Kolog dengan unsur-unsur salah satunya adalah Depot Teknik 022 (DT-022) yang berfungsi sebagai Depot Pemeliharaan Perlengkapan Radar yang berlokasi di Panasan Solo.


Rencana Pembangunan Pabrik Radar

Mengingat pentingnya peran Radar dalam mendukung pergerakan pesawat RI dan memantau pergerakan pesawat musuh (Belanda) dalam operasi pertahanan udara, sehingga pemerintah Indonesia pada saat itu merasa perlu untuk membangun Pabrik Radar (Padar) sehingga memudahkan pemeliharaan Radar dan mengoptimalkan dukungan pelaksanaan operasi Mandala/TRIKORA dalam rangka pembebasan Irian Barat.

Realisasi dari rencana pembangunan Pabrik Radar tersebut, pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian kontrak dengan Polandia berupa :

  1. Pengiriman siswa-siswa Teknisi Radar untuk belajar ke Polandia (Eropa), yang dipersiapkan sebagai tenaga Teknik Radar Nysa yang pendidikan dilaksanakan di suatu kota kecil yang bernama Yeleniogora selama 2 tahun (1960-1962).
  2. Pembangunan proyek Pabrik Radar di Lanud Panasan (Lanud Adi Soemarmo) atas dasar perhitungan di mana jarak ke wilayah barat dan timur Indonesia kira-kira sama. Rencana dari proyek tersebut adalah untuk membangun suatu kesatuan yang mampu mengadakan pemeliharaan tingkat berat Radar type Nysa buatan Polandia dengan sasaran produksi 8 (delapan) stasiun Radar tiap tahun. Persiapan pelaksanaan proyek pembangunan Pabrik Radar di Lanud Panasan diawali dengan pembangunan fasilitas sarana dan prasarana. Pada tahun 1960 dilaksanakan pembangunan jembatan untuk melintaskan barang-barang berat ke lokasi, bersamaan dengan itu dibangun pula perumahan pejabat DT-022 (sekarang digunakan sebagai perumahan Pejabat Lanud Adi Soemarmo dan Depohar 50), Bintara Tunggal (sekarang Komplek Radar A dan B), Bintara Ganda dan Tamtama (sekarang Komplek Dirgantara dan Antariksa), dilanjutkan dengan pembangunan rumah sakit (sekarang menjadi Rumah Sakit Lanud Adi Soemarmo). Pembangunan penyaringan air untuk menyediakan air bersih bagi perumahan dan Pabrik Radar. Pembangunan Gudang Pemeliharaan Pusat (Guharpus) untuk penempatan suku cadang yang datang dari luar. Pembangunan Pool Radar sebagai tempat penyipanan Radar yang telah selesai dirakit di pabrik dan diuji coba (sekarang menjadi Pool Kendaraan Lanud Adi Soemarmo). Kegiatan pembangunan selanjutnya adalah Markas DT-022 yang dilaksanakan secara bertahap diawali dengan :

  • Membangun pagar tembok mengelilingi areal Depo.
  • Membangun gedung mekanik, untuk menempatkan mesin-mesin mekanik (mesin bubut, frais, bor, gerinda, pemotongan plat, mesin las dan bangku kerja, juga sebagian untuk administrasi sementara).

  • Membangun gedung elektronik, untuk merakit dan merencanakan instalasi juga untuk lab. pengukuran dan sub gudang sparepart elektronik.

  • Membangun gudang penempatan sparepart dan barang siap pakai dan kemudian sebagian digunakan untuk administrasi.

  • Membangun gedung Galvanisasi, pengecatan dan perkayuan, setengah jadi (60%).

  • Membangun gedung I (satu) yang akan digunakan untuk assembling unit-unit yang sudah selesai dari tiap-tiap seksi sehingga menjadi unit yang siap pakai.

  • Membangun gedung pengecoran yang terletak di bagian belakang Depohar 50 dan kemudian dijadikan sebagai Gedung Radar Udara dan Navigasi Udara, sedangkan uji coba Radar dilaksanakan di halaman belakang dan setelah selesai uji coba ditempatkan di Pool Radar, untuk siap digerakkan ke instansi pemakai (operasional).

Sebagai langkah lebih lanjut dari proyek Radar dengan instalasi/fasilitas yang ada telah diusahakan untuk dapat mulai berfungsi dan melaksanakan tugasnya yaitu pemeliharaan tingkat berat Radar Type Nysa dan dengan penambahan fasilitas untuk pemeliharaan alat-alat Avionik. Untuk itu, pada tanggal 1 Agustus 1963 proyek radar tersebut dibentuk dalam kesatan yang dikukuhkan dalam organisasi TNI AU dengan nama Depot Teknik 022. Akan tetapi, dengan adanya pergolakan politik dalam negeri pada tahun 1965 pembangunan proyek ini terhenti pada saat baru mencapai 70% dari sasaran semula.



Tipe Radar dan Lokasi Penempatan

Dalam rangka mendukung operasi pertahanan udara untuk memperjuangkan kemerdekaan seperti operasi pembebasan Irian Barat (Operasi TRIKORA), oprasi Jagabaya serta operasi-operasi lainnya, Indonesia menggunakan beberapa tipe radar yang menjadi tanggung jawab TNI AU, yang lokasi penempatannya tersebar di seluruh Indonesia. Tipe-tipe radar yang menjadi tanggung jawab pemeliharaan DT-022 sampai dengan Depohar 50 antara lain :

  1. Radar Type NYSA-B dan NYSA-C (Polandia tahun 1960). Lokasi penempatan Jakarta (JKT), Cikarang (CKR), Cibalimbing (CBL), Morotai (MRT), Ambon (ABN), Supadio (SPA), Makassar (MKS), Bula/Seram, Biak (BIK), Medan (MDN), Ploso (PLO), Ranai (RNI).
  2. Radar Type P-30 (Rusia tahun 1961). Lokasi penempatan Pelembang (PLG), Pekanbaru (PBU), Tanjung Pandan (TDN), Banjarmasin (BJM), Kalijati (KJT) dan Polek 02.
  3. Radar Type DECCA PLESSEY HF-200 (Inggris tahun 1962). Lokasi penempatan Ploso (PLO) dan Tanjungkait (TKT).
  4. Radar Type DECCA PLESSEY FR (Inggris tahun 1962). Lokasi penempatan Ploso (PLO) dan Cisalak (CSL).
  5. Radar Type DECCA PLESSEY HYDRA (Inggris tahun 1962). Lokasi penempatan Tanjungkait (TKT).
  6. Radar Type DECCA PLESSEY LC (Inggris tahun 1962). Lokasi penempatan Pemalang (PML) dan Ngliyep (NLI).
  7. Radar Type THOMSON THD-047 (CSF Perancis tahun 1978). Lokasi penempatan Tanjung Pinang (TPI).
  8. Radar Type RAWIND SONDE PLESSEY (Inggris tahun 1984). Lokasi penempatan Iswahyudi (IWY).
  9. Radar Type QUAD RADAR MARK-V ITT GILFILLAN (USA tahun 1984). Lokasi penempatan Pekanbaru (PBR) dan Iswahyudi (IWY).
  10. Radar Type THOMSON TRS-2215 R (CSF Perancis tahun 1981). Lokasi penempatan Ranai (RNI), Kupang (KPN), Dumai (DMI), Lhokseumawe (LSE).
  11. Radar Type THOMSON TRS-2215 D (CSF Perancis tahun  1986). Lokasi penempatan Cibalimbing (CBL), Sabang (SBG), Sibolga (SBL).
  12. Radar Type THOMSON TRS-2230 (CSF Perancis tahun 1987). Lokasi penempatan Tanjungkait (TKT).
  13. Radar Type PLESSEY AR-325 COMMANDER (Inggris 1991). Lokasi penempatan Tarakan (TRK), Balikpapan (BPP) dan Kwandang (KWD).

Perkembangan Organisasi


Sesuai dengan perkembangan Organisasi TNI Angkatan Udara secara keseluruhan dan Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara (Koharmatau) maka susunan organisasi Depo Pemeliharaan 50 (Depohar 50) juga telah mengalami beberapa kali perubahan. Secara kronologis dapat diuraikan sebagai berikut :


Periode Tahun 1963-1966

Pada periode ini bernama Depot Teknik (DT-022) yang secara organisasi bernaung di bawah Komando Logistik (Kolog) sebagai unsur pelaksana berdasarkan keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Nomor 38 Tahun 1963 tentang POP Komando Logistik. Pada periode ini DT-022 dipimpin oleh Mayor Udara Srijono dengan pangkat Kapten saat menerima jabatan Komandan DT-022.


Periode Tahun 1966-1972

Dengan perkembangan organisasi Komando Logistik berdasarkan keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Nomor : 38 Tahun 1966 susunan organisasi Komando Logistik (Kolog) berikut istilah-istilahnya telah mengalami perubahan maka Depot Teknik berubah menjadi Wing Logistik 050 (Wing Log 050) dengan fungsi melaksanakan pemeliharaan berat peralatan elektronika pesawat terbang dan Radar Darat serta pembekalan materiilnya. Satuan yang ada di bawahnya adalah Skatek 051, 052, 053, dan Skamat 054. Yang menjabat pimpinan dalam periode ini adalah Letkol Udara Lek Srijono, Letkol Udara Lek Oetama, Letkol Udara Lek Maman Suratman dan Mayor Udara Lek P. Sitorus.


Periode Tahun 1972-1973

Pada periode ini berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor : 11 Tahun 1972 tanggal 13 Maret 1972, susunan organisasi Komando Logistik mengalami perubahan sehingga Wing Logistik 050 (Wing Log 050) berubah nama menjadi Depo Radar yang bernaung di bawah Kapuskomlek. Pimpinan Depo Radar pada periode ini Mayor Udara Lek P. Sitorus.

Periode Tahun 1973-1978

Pada periode ini Depo Radar berubah namanya menjadi Depot Komunikasi dan Elektronika 02 (Depot Komlek 02) dan tetap bernaung di bawah Kapuskomlek. Kapuskomlek pada tahun 1976 berganti nama menjadi Jankomlekau. Pimpinan Depot Komlek periode ini adalah Letkol Lek P. Sitorus dan Kolonel Lek Soewito.


Periode Tahun 1978-1985

Depot Komlek 02 pada tahun 1978 berubah nama menjadi Wing Komunikasi dan Elektronika 02 (Wing Komlek 02) dan tetap bernaung di bawah Jankomlekau. Berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor : Kep/08/III/1979 tentang POP Jankomlek, maka Wing Komlek 02 mempunyai fungsi sebagai pelaksana utama pemeliharaan dan pembekalan tingkat III peralatan radar. Satuan yang berada di bawahnya adalah Sathar 021, 022. 023, 024 dan Satkal 025. Pimpinan Wing Komlek 02 pada periode ini adalah Kolonel Lek Soewito, Kolonel Lek Z. Ma’arief dan Kolonel Lek Himami.


Periode Tahun 1985- 1999

Dengan Reorganisasi TNI AU kembali ke sistem Direktorat berdasarkan keputusan Kasau Nomor : Kep/24/III/1985 tanggal 11 Maret 1985, maka Wing Komlek 02 berubah menjadi nama menjadi Depo Pemeliharaan Elektronika 02 (Depolek 02) dan berada di bawah Direktorat Elektronika. Dengan keputusan Kasau tersebut maka tugas pokok Depolek 02 lebih dipertegas dan secara struktural lebih mengarah kepada penyelesaian tugas secara fungsional komoditif, yang kedudukan tugas pokok dan susunan organisasinya ditetapkan sebagai berikut :

  1. Kedudukan. Depo Pemeliharaan Elektronika 02 di singkat Depolek 02 berada langsung dibawah satuan pelaksana Direktorat Elektronika yang berkedudukan langsung dibawah Direktur Elektronika.
  2. Tugas pokok. Depolek 02 mempunyai tugas pokok sebagai pusat pemeliharaan tingkat berat, produksi terbatas alat-alat bantuan dan penyelenggaraan kesiapan materiil alat ukur militer dalam bidang peralatan Radar Darat.
Pada bulan Maret 1987 sesuai dengan keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor : Kep/39/III/1987 tanggal 30 Maret 1987 yang merupakan penyempurnaan Kep/24/III/1985, POP Koharmatau telah mengalami perubahan. Walaupun masih mengalami sistem direktorat namun di sini terjadi perubahan yang mendasar yaitu dengan adanya pemisahan dalam penyelenggaraan fungsi pemeliharaan dan pembekalan. Hampir seluruh fungsi pembekalan yang semula ditangani oleh Koharmatau telah ditarik ke Mabesau, sedangkan dalam penyelenggaraan fungsi pemeliharaan, Koharmatau hanya berfungsi sebagai penyelenggara dan pelaksana pemeliharaan tingkat berat saja. Berdasarkan Skep Kasau ini maka Depolek 02 masuk dalam jajaran Koharmatau, yang kedudukan, tugas pokok dan susunan organisasinya ditetapkan sebagai berikut :

  • Kedudukan. Depo Elektronika 02 disingkat Depolek 02 adalah pelaksana Koharmatau yang berkedudukan langsung dibawang Dankoharmatau.

  • Tugas pokok. Depolek 02 bertugas pokok menyelenggarakan dan melaksanakan pemeliharaan tingkat berat peralatan radar

  • Tugas Tambahan. Depolek 02 memiliki tugas tambahan melaksanakan Pendidikan Teknisi Radar Thomson dan Plessey. Tugas tambahan ini dilatarbelakangi tersedianya Instruktur radar yang telah dididik di luar negeri, tersedianya Test Bench beserta teknisinya dan tersedianya sarana dan prasarana belajar yang memadai.

Pimpinan Depolek 02 yang menjabat pada periode ini adalah kolonel lek Himami, Kolonel Lek IGP. Mastra, Kolonel lek Atmaradin, Kolonel Lek Djoko Sanjoto, S.E., Kolonel lek Wijono, S.E. dan Kolonel Lek Astono, S.E.


Periode Tahun 1999-2003

Sesuai dengan keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor : Kep/4/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 yang merupakan penyempurnaan Kep/39/III/1987, pokok-pokok organisasi dan prosedur Komando pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) mengalami perubahan khususnya pada tingkat pelaksana. Dengan keputusan Kasau tersebut, maka Depolek 02 berubah menjadi Depo pemeliharaan 50 (Depohar 50), yang kedudukan, Tugas pokok dan susunan organisasinya diteapkan sebagai berikut :

  1. Kedudukan. Depo pemeliharaan 50 disingkat Depohar 50 adalah satuan pelaksana koharmatau yang berkedudukan langsung dibawah Dankoharmatau.
  2. Tugas Pokok. Depohar 50 bertugas melaksanakan pemeliharaan tingkat berat peralatan radar.
  3. Susunan Organisasi. Susunan Organisasi Depohar 50 terdiri dari :
  • Eselon Pimpinan : Komandan Depo pemeliharaan 50, disingkat Dandepohar 50.
  • Eselon Pelayanan : Tata Usaha dan urusan Dalam, disingkat Taud.
  • Eselon Pembantu Pimpinan / Staf pelaksana :
  1. Dinas perencanaan dan pengendalian pemeliharaan, disingkat Disrendalhar.
  2. Dinas Pembinaan, disingkat Disbin
  3. Dinas pengendalian kualitas disingkat Disdalkual.
  • Eselon Staf Khusus :
    1. Program dan Anggaran, disingkat Proggar.
    2. Pengadaan, disingkat Ada.
    3. Pemegang Kas, disingkat Pekas.
    4. Pengumpulan dan Pengalahan Data, disingkat Pullahta.
    • Eselon pembantu Pelaksana :
    1. Bantuan Teknik, disingkat Bantek.
    2. Pusat Pemrosesan Perbaikan, disingakt P-3.
    3. Gudang Persedaian Depo, disingkat GPD.
    • Satuan Pelaksana.
    1. Satuan Pemeliharaan 51, disingkat Sathar 51.
    2. Satuan Pemeliharaan 52, disingkat Sathar 52.
    3. Satuan Pemeliharaan 53, disingkat Sathar 53. 

    Permbangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, semakin mempertinggi kemampuan dan kecanggihan Alat utama Sistem Senjata Udara. Oleh karena itu TNI Angkatan Udara dituntut juga mempergunakan Alat Utama Sista Udara produk teknologi mutakhir berupa pesawat tempur, radar, dan juga peralatan pernika lainnya. Secara bertahap TNI Angkatan Udara juga sudah mulai mempersiapkan berbagai fasilitas dan perangkat pemeliharaannya yang salah satunya adalah Depot Teknik 022 yang sekarang berganti nama menjadi Depo Pemeliharaan 50 yang berada dibawah jajaran Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara.


    Dari uraian diatas terlihat bahwa Depo Pemeliharaan 50 sebagai satuan pelaksanan Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara yang mempunyai tugas menyelenggarakan pemeliharaan tingkat berat peralatan Radar TNI AU, telah memberikan peranan yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan operasi-operasi pertahanan udara dalam rangka mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia.


    Dari perjalanan sejarah Depot Teknik 022 (Depohar 50) yang diawali dari rencana pembangunan pabrik Radar Panasan, dapat dilihat kegigihan dan ketekunan para pendahulu dan hal tersebut dapat dijadikan teladan dalam pelaksanaan tugas di masa depan. Alat utama sistem senjata udara yang dipercayakan kepada TNI Angkatan Udara Udara secara konsisten terus disiapkan sehingga bisa dioperasionalkan untuk dapat terus menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.


    Perjuangan para pendahulu membutuhkan pengorbanan yang dilakukan demi kejayaan nusa dan bangsa. Pada akhirnya marilah kita mengenang perjuangan para pendahulu kita yang telah berjuang tanpa pamrih sehingga Depohar 50 sampai sat ini masih mempunyai andil yang penting dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Udara dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Do Your Best, Share Our Article

    Related Posts